Daerah  

Embung Milik BWS NT II Senilai 17 M Tak Berfungsi dan Kering Di Musim Kemarau

Kupang,kabar-malaka.com- Embung Hombawela yang dibangun oleh Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BWS NT 2) dengan anggaran sekitar Rp 17 Milyar di Desa Pangedo Ede, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) tak berfungsi sebagaimana mestinya dan tidak dimanfaatkan. Diduga lapisan geomembran (sebagai lapisan kedap air, red) mengalami kebocoran sehingga tidak dapat menampung air dan mengalami kekeringan di musim kemarau.

Berdasarkan pantauan tim media ini pada Selasa (7/4/2022) pekan lalu, air yang ditampung oleh Embung Hombawela menyusut hingga lebih dari 3 meter. Kedalaman Air hujan yang tersisa di sebagian sisi Embung tersebut hanya sekitar 1 meter lebih.

“Awal Maret lalu, saat hujan masih banyak, air dalam Embung penuh. Tapi karena tidak hujan sekitar 3 Minggu terakhir maka air langsung turun drastis,” ujar seorang warga yang ditemui di sekitar lokasi Embung Hombawela.

Menurutnya, saat air Embung penuh di musim hujan, para muda-mudi setempat sering memanfaatkannya berfoto Selfie. “Waktu airnya penuh, anak-anak muda sering berfoto di sini,” ujarnya.

Namun, lanjutnya, Embung tersebut akan kering di musim kemarau. “Masyarakat tidak bisa manfaatkan karena airnya kotor (keruh, red). Kalau tidak ada hujan, airnya akan kering,” jelasnya.

Baca Juga :  Rehab Rujab Bupati Malaka Rp 2,1 Milyar Berdasarkan Kontrak Proyek

Seperti disaksikan tim media ini, Embung dengan diameter sekitar 50 meter tersebut tampak mengalami penyusutan air sekitar 3 meter lebih. Sebagian Embung tersebut tampak kering sehingga terlihat dengan sangat jelas lapisan geomembran didasar Embung. Sisa Air yang ditampung Embung itu kedalamannya hanya sekitar 1 meter lebih.

Sisi Embung ditumbuhi oleh semak belukar yang cukup tebal. Embung ini dikelilingi oleh pagar besi. Ada juga lampu penerangan dari solar Shell.

Kepala BWS NT 2, Agus Sosiawan yang dikonfirmasi tim media ini melalui Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Franky Welkis menjelaskan, menyusutnya air pada Embung Hombawela diduga karena ada kebocoran pada geomembran sebagai lapisan kedap air.

“Air cepat kering itu diduga karena ada kebocoran geomembran. Mungkin robek karena kena batu di dasar embung. Tekanan air membuat geomembrannya robek. Tapi biasanya ada lapisan geotekstil di bawah geomembran agar tidak mudah sobek. Tapi kemungkinan kebocoran itu karena lepasnya jahitan pada sambungan geomembran,” ujar Franky.

Baca Juga :  Wabup Malaka Kim Taolin Distribusikan Langsung Bantuan Minyak Tanah Bagi Masyarakat Yang Terdampak Banjir

Karena itu, pihaknya akan mengecek penyebab turunnya air secara drastis pada Embung Hombawela. “Kami akan cek apa penyebabnya? Apakah karena geomembrannya sobek atau sambungannya yang lepas. Kalau air yang keruh, mungkin karena endapan (sedimen, red) dari semak-semak yang hancur di sekitar embung. Karena itu aset BWS NT II maka kami yang akan memperbaiki atau merehabnya,” jelas Franky.

Ia memaparkan, Embung Hombawela dibangun pada tahun 2017. Kemudian ditingkatkan (dengan pemasangan geotekstil dan geomembran) pada tahun 2019. “Tanah di lokasi Embung tidak kedap air. Tanahnya berongga dan berbatu (tanah putih, red). Sehingga perlu lapisan kedap air,” paparnya.

Mengenai Embung Hombawela yang tidak berfungsi dan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, Franky mengatakan, Embung tersebut dibangun untuk menjawab kebutuhan masyarakat di sekitar embung. “Kami membangun Embungnya lalu diserahkan ke desa dan dimanfaatkan untuk air bersih masyarakat, pertanian dan ternak. Kami akan cek mengapa Embung tersebut tidak dimanfaatkan masyarakat setempat,” katanya.

Menurut Franky, pada Embung yang dibangun BWS NT II biasanya ada bak penampung dan dipasangi pipa untuk menyalurkan air bagi masyarakat. “Mungkin pipanya sudah dicuri,’ katanya.

Baca Juga :  Diduga Pengadaan Sapi di Desa Letneo Selatan Bermasalah, Araksi Lapor Ke APH

Dari data teknis yang diperoleh dari BWS NT II, terdiri atas:
1) Tanggul (tinggi 11 meter, panjang 171 meter lebar 6 meter, type homogen);
2) Spilway/Pembuangan (panjang 105 meter, lebar 5 meter, type beton);
3) Tampungan/Daya Tampung Air (efektif 168,907 meter kubik; brutto 140,756 meter kubik);
4) Luas Genangan (2,68 Ha);
5) Lapisan Geotekstil (26.800 meter persegi);
6) Lapisan Geomembran (26.800 meter persegi);
7) Manfaat (Air baku: 1,14 liter/detik; Irigasi: -).

Berdasarkan data dan informasi yang dihimpun tim media ini, Embung Serbaguna Hombawela di bangun oleh Kementerian PUPR melalui BWS NT II pada tahun 2017 dengan nilai sekitar Rp 9 M.

Pada tahun 2019, Kementerian PUPR melanjutkan Pembangunan Embung Hombawela dengan pemasangan geotekstil dan geomembran. Pagu anggaran yang dialokasikan sebesar Rp. 9.157.240.000,00.

Pekerjaan ini dilaksanakan oleh CV. GORDEN MAS (dari Bima, NTB) dengan nilai kontrak sekitar Rp 8.236.607.000 (Rp 8,2 M). Dengan demikian, total anggaran untuk pembangunan Embung Hombawela sekitar Rp 17 M.