Direktris Yabiku NTT Bicara Keadilan Gender pada LKK GEMMA Kefamenanu

Foto://Direktris YABIKU NTT, Maria Filiana Tahu, S.Sos., M.Hum,.
Kefamenanu, Kabar-malaka.comDirektris Yayasan Amnaut Bife Kuan atau YABIKU Nusa Tenggara Timur, Maria Filiana Tahu, S.Sos., M.Hum membahas kesetaraan dan keadilan gender dalam kegiatan Latihan Kepemimpinan Kader (LKK), Minggu (22/10/2023) di Sekretariat Gerakan Mahasiswa Malaka (GEMMA) Kefamenanu.

Dalam pemaparannya, Filly Tahu, demikian ia disapa, menguraikan bahwa Gender berasal dari bahasa Latin, yaitu “genus”, yang berarti tipe atau jenis. Sehingga Gender dapat diartikan sebagai sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya.

Perempuan berdarah Malaka ini menegaskan, berbicara mengenai Gender sesungguhnya menyoal kesetaraan peran antara perempuan dan laki-laki.

Baca Juga :  Latihan Kepemimpinan Kader, Theo Tahoni: "Pemimpin Harus Berani Ambil Keputusan"

Menurutnya, kesetaraan Gender dapat berupa kesetaraan Gender di Lingkungan rumah, upah yang sama untuk pekerjaan yang sama, nol toleransi untuk pelecehan seksual, lebih banyak anak perempuan mendapatkan pendidikan, lebih banyak perempuam diberi kesempatan untuk berada di tempat kerja dan menjadi pimpinan.

Kesetaraan gender merupakan salah satu hak asasi kita sebagai manusia. Hak untuk hidup secara terhormat, bebas dari rasa takut dan bebas menentukan pilihan hidup; tidak hanya diperuntukan bagi para laki-laki, karena pada hakikatnya perempuan pun mempunyai hak yang sama,” tegas¬† Calon Legislatif dari Partai Gerindra Dapil 1 Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten TTU ini.

Baca Juga :  Hadir di MPBAB GEMMA, Ketua DPC PERADI Atambua Berbagi Ilmu Hukum Bersama Kader GEMMA

Lebih lanjut, Alumnus Universitas Timor ini membeberkan beberapa faktor penyebab terjadinya ketidakadilan Gender, di antaranya pelabelan sifat-sifat tertentu (stereotipe), pemiskinan ekonomi terhadap perempuan, subordinasi pada salah satu jenis kelamin yaitu perlakuan menomorduakan perempuan, tindak kekerasan (violence) terhadap perempuan, budaya patriarkhi yang berkembang di masyarakat.

“Kita harus mampu membedakan gender dan kodrat, sehingga mampu bertindak adil dan mengedepankan kesetaraan dan keadilan Gender,” tegas Filly kepada peserta LKK yang didominasi mahasiswa-mahasiswi asal Malaka.

Salah satu perempuan hebat yang sudah melanglang buana dalam penanganan kasus kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran, dan kekerasan psikis ini menjelaskan bahwa untuk menciptakan kesetaraan dan keadilan Gender maka diperlukan dukungan politik dari pimpinan, kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG), Sumber Daya Manusia, Anggaran, Alat Analisis Gender, Data terpilah menurut jenis kelamin dan Partisipasi Masyarakat.

Baca Juga :  Hari Sumpah Pemuda, GEMMA Kefamenanu Gelar Aksi di Kabupaten Malaka

Dosen pada Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Sandinawa Kefamenanu ini juga menjelaskan setiap orang sedapat mungkin menghindari adanya diskriminasi Gender sehingga peran perempuan dan laki-laki benar-benar dicapai demi terwujudnya pembangunan yang lebih merata.

“Mahasiswa harus menjadi pelopor dihindarkannya diskriminasi gender. Mahasiswa harus tampil sebagai orang-orang merdeka yang memperjuangkan kesamaan hak perempuan dan laki-laki berdasarkan regulasi yang berlaku,” pungkasnya. (Kaka)