Diduga Pengadaan Sapi di Desa Letneo Selatan Bermasalah, Araksi Lapor Ke APH

Foto doc://Salah Satu Sapi Bantuan Dari Dana Desa Letneo Selatan, Kec. Insana Barat, Kab.TTU Tahun 2022 Yang Diprotes Warga.

TTU, KabarMalaka.com – Pengadaan Ternak Sapi di Desa Letneo Selatan, Kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) diduga tidak sesuai dengan RAB.

Pengadaan sapi yang menggunakan Dana Desa Tahun 2022 itu terjadi masalah dan Araksi TTU akan melaporkan ke APH karena dinilai tidak sesuai dengan mekanisme yang ada.

Hal ini disampaikan oleh ketua Araksi TTU, Charli Bakker saat ditemui media ini di Desa Letneo Selatan, Kabupaten TTU, Jumat, (20/01/2023).

Charli Bakker mengatakan, dirinya mendapat aduan dari masyarakat terkait dengan pengadaan sapi menggunakan dana desa Tahun 2022.

Dikatakannya, sesuai aduan itu,  dinilai banyak kejanggalan di Desa Letneo Selatan, Kecamatan Insana Barat, Kabupaten TTU.

Masyarakat sudah adukan di Saya. Setelah itu kami langsung melakukan investigasi di Desa. Disana kami menemukan banyak kejanggalan dan kami siap laporkan ke APH,” Tutur Charli.

Kata Charli, sapi yang dibagikan kepada masyarakat itu ternyata kurus-kurus.

“Selain kurus, ternyata kecil- kecil, Walaupun ada juga yang besar,” Katanya.

Ketua Araksi TTU menjelaskan, mekanisme pelelangan untuk pihak ketiga dalam hal ini suplayer atau kontraktor itu dinilai asal-asalan dan diduga langsung ditunjuk oleh pihak desa.

“Inikan lucu, ada apa? tentunya kita bertanya-tanya, dugaan adanya mark up harga besar-besaran, dan hal ini kita akan laporkan ke APH untuk segera memeriksa kontraktor dan pihak-pihak yang terkait dalam pengadaan bantuan sapi tersebut,” Tegas Charli.

Baca Juga :  Target Bulan September Stunting di Malaka Turun 14%, Wabup Kim Taolin Minta Seluruh Kades Wajib Anggarkan DD 10%

Dijelaskannya, bahwa pengadaan ternak sapi betina bantuan bagi warga desa di Letneo selatan yang disalurkan beberapa waktu lalu menuai protes.

Masyarakat protes karena ukuran sapi bantuan yang dibeli menggunakan Dana Desa tidak sesuai dengan alokasi anggaran yang ditetapkan. Dimana untuk pengadaan sapi tersebut sesuai RAB, dan harus mencapai Rp 5 juta per ekor,” Ujarnya

Namun kata Ketua Araksi TTU ini, setelah dilihat ternyata sapi terlalu kecil.

“Kecil begitu pasti tidak sampai 5 Juta, pastinya ini tidak sesuai dengan harga. Dan sapi betina hanya tulang saja, bahkan ada 3 ekor sapi bantuan untuk masyarakat sudah ada yang mati karena sapi ukurannya terlalu kecil,” Jelas Charli.

Lebih lanjut Charli menjelaskan, pagu dana yang ditetapkan untuk pengadaan ternak sapi betina tersebut sebesar Rp. 5 juta per ekor.

Namun kata Charli, karena pemdes memotong pajak (PPH dan PPN) sebesar 12 persen atau Rp 600 ribu sehingga dana per ekor yang diserahkan ke pihak ketiga untuk pembelanjaan ternak hanya sebesar Rp 4.400.000 per ekor.

“Nah, Setelah kita cek ternyata biaya untuk pajak (PPH dan PPN)  hanya 2 persen saja, yang menjadi pertanyaan kita adalah dana pajak 10 persen itu kemanakan?,” Tanya Ketua Araksi TTU ini.

Sementara itu, seorang masyarakat di Letneo Selatan, Regis Omenu mengatakan, bahwa ia salah satu penerima bantuan tersebut.

Baca Juga :  Araksi Menilai Polres Malaka Lamban Menangani Kasus Korupsi DD Di Desa Weain

“Saya juga salah satu masyarakat yang mendapat bantuan sapi, tetapi saya tolak karena ukuran sapi terlalu kecil dan kurus,” Kata Regis.

Regis pun mengungkapkan hal ini ke masyarakat lainnya, bahwa para kontraktor saat menurunkan ternak sapi dari atas mobil untuk diserahkan kepada masyarakat itu disaat tengah malam.

“Mungkin karena sapi itu sangat kecil dan tidak sesuai dengan harga, sehingga mereka turunkan dengan Malam. Sapi yang ada itu sangat kecil dan kurus. padahal pagu dana yang ditetapkan untuk pengadaan ternak sapi betina tersebut sebesar Rp. 5 juta per ekor,” Ungkapnya

Menurutnya, dana sebanyak itu harusnya ukuran ternak sapi yang dibelanjakan untuk masyarakat berbadan sehat dan memiliki bobot badan yang cukup.

“Sehingga nantinya sapi bantuan tersebut dapat dipelihara dengan baik oleh masyarakat dan tujuan dari program pengadaan bantuan ternak sapi tersebut dapat tercapai,” Tuturnya.

Dikesempatan yang sama Pj. Kades Letneo Selatan, Siprianus Bifel saat ditemui media dikediamannya mengatakan, untuk tahun anggaran 2022 pihaknya mengalokasikan anggaran untuk pengadaan ternak sapi.

Ternak sapi betina bagi masyarakat, kata Sipri Bifel, sebanyak 92 ekor dengan anggaran per ekor sebesar Rp 5 juta.

Dengan rincian 83 ekor pada tahap pertama serta 9 ekor lainnya setelah dilakukan perubahan anggaran. Total semua ada 92 ekor.

“pada awalnya kami belum terlalu memahami mekanisme terkait dengan sistem perpajakan untuk program pemberdayaan masyarakat seperti pengadaan ternak terkena pajak PPN dan PPH atau PPH saja, sehingga kami langsung memutuskan untuk memotong pajak PPN dan PPH sebesar 12 persen atau sebesar Rp 600 ribu” akui Pj. Kades ini.

Baca Juga :  Ukir Sejarah Baru, Anggota Aktif GEMMA Pegang Pucuk Pimpinan PMKRI Kefamenu

Ia menambahkan, bahwa setelah mereka melakukan konsultasi ke pihak perpajakan, terkait program pemberdayaan masyarakat pengadaan ternak sapi dan lainnya hanya dikenakan PPH sebesar 2 persen.

Sehingga kata Sipri Bifel, untuk pengadaan ternak sapi tersebut pemdes Letneo Selatan hanya membayar Rp 100 ribu per ekor  untuk pajak.

Pajak yang kami bayar ternyata hanya 2 persen jadi ada uang lebih, sehingga nanti uang yang lebih kami kembalikan ke masyarakat penerima sapi dalam waktu dekat ini, tentunya kami akan kembalikan,” Tandas Pj. Kades Letneo Selatan ini.

Dikatakannya, mereka dari pihak pemerintah Desa akan melakukan konsultasi terkait semua ini.

“Kami akan berkonsultasi dengan pihak ketiga terkait sapi yang ditolak oleh masyarakat lantaran ukurannya dinilai tidak sesuai, dan ada 3 ekor sapi yang mati ditangan masyarakat tentunya kita juga akan konsultasi dengan pihak ketiga dalam hal ini kontraktor kira-kira sapi yang mati ini akan diganti atau seperti apa hal ini nanti kita diskusikan untuk mencari solusi bersama,” Ujarnya

Sementara itu untuk mengimbangi berita, media mencoba konfirmasi ke suplayer. Namun Suplayer, Siprianus Kono, belum ditemukan hingga berita ini diturunkan.

Reporter : Fe
Redaksi  : Arro