Karena Memilih SNKT di Pilkada dan Agus di Pilkades, Ratusan Warga Diusir Pemilik Tanah

Foto://Andry// Rumah Warga yang di Bongkar akibat Beda Politik di Malaka.

MALAKA, Kabar-Malaka.com – Gegara beda politik dalam Pilkada 2020 dan Pilkades 2022, Warga asal maubesi yang sudah puluhan tahun tinggal di dusun labarai, Desa Kamanasa diusir oleh pemilik tanah, Senin, (12/12/2022).

Merdasarkan informasi yang dihimpun media ini pada Selasa, 12 Desember 2022, ternyata mereka diusir gegara beda Pilihan dalam PILKADA Malaka yang diselenggarakan pada 9 Desember 2020 satu tahun yang lalu.

Keluarga yang diusir tersebut yakni Julio C. Baros dan Viktor C. lopes bersama keluarga mereka sebanyak 23 Kepala keluarga.

Selain itu sebanyak 140 Jiwa dari 39 Kepala Keluarga juga dapat diusir pemilik tanah karena masalah yang sama.

Dari sekian ratusan lebih warga tersebut diusir akibat beda pilihan pada PILKADA 2020 setahun yang lalu.

Diketahui, karena pilkada 2020 tidak sejalan dengan mereka (pemilik tanah) yakni Modesta Selina Seuk (istri), Marito Salsinha (suami) dan tokoh adat (Romaldo C. Lopes) yang mendukung salah satu paslon yaitu SBS-WT.

Sedangkan ratusan lebih Warga yang  diusir itu yang mendukung Paket SNKT pada PILKADA waktu itu.

Julio C. Barros sebagai ketua Tim keluarga SNKT di Labarai ketika ditemui media ini mengatakan, bahwa selama ini ia bersama ratusan keluarga hidup dalam tekanan, bahwasanya mereka tinggal di tanah orang lain.

“Saya dengan pendukung SNKT tidak nyaman selama ini, kami di intimidasi dan di teror terus menerus oleh tuan tanah yakni Modesta dan Marito, dan juga tokoh adat bernama Romaldo di labarai maubesi. Alasannya mereka intimidasi dan teror kami karena tidak mendukung SBS-WT waktu itu,” Ungkapnya.

Baca Juga :  DPMPTSP Kabupaten Malaka Gelar Sosialisasi Implementasi OSS-RBA
Foto://Andry//Pembokaran Rumah Warga.

Diakuinya, sekarang tuan tanah dan tokoh adat maubesi itu menyuruh mereka untuk bongkar rumahnya karena kembali berbeda politik di Pilkades serentak di Kabupaten Malaka beberapa hari yang lalu.

“Waktu itu mereka teror kami karena PILKADA kami tidak ikut SBS-WT, dan pada pilkades tanggal 09 Desember 2022 ini juga kami beda pilihan karena kami tidak mendukung Tuan Tanah yang juga maju sebagai cakades di desa Kamanasa. Jadi mereka marah karena kami dukung petahana yaitu Agustinus Bere Nahak yang sekarang menang lagi. Oleh karena itu mereka usir kami dan menyuruh untuk bongkar rumah,” Ujarnya.

Dikatakannya, bertepatan pada Senin 12 Desember tahun ini, mereka diusir dan disuruh pergi dari tempat mereka tinggal.

“Hari ini tanggal 12 dan kami dipaksa untuk bongkar rumah kami dan tidak boleh tinggal di labarai maubesi,” Katanya.

Karena tindakan tidak mulia itu, mereka melakukan pengaduan ke beberapa pimpinan Daerah hingga sampai pimpinan tingkat desa.

“Kami sudah sampaikan semua tindakan kekerasan ini kepada Bupati dan kepala desa kamanasa, namun sejauh ini belum ada tindakan apa-apa dari bupati dan kepala desa kamanasa Sekarang ini. Nasib dan nyawa kami terancam entah kemana lagi kami harus mengadu dan bersandar,” Ungkap julio kepada media ini sambil meneteskan air mata.

Baca Juga :  Respon Cepat, CV. Ambala Perkasa Langsung Perbaiki Bantuan Rumah Yang Roboh di Desa Fafoe

Julio menerangkan, bahwa nama tuan tanah dan Tokoh tokoh Adat yang turut mengusir Ketua Tim SNKT dan pendukung cakades Agustinus Bere Nahak selaku (pertahana) yaitu; Modesta Selina seuk dan Marito Salsinha (istri dan suami), Romaldo, lopes, Jorje salsinha, Luis dorego, Luis dacon, Samuel daconceicao, Joan Tilman mendonca, Sebagai Tokoh Adat.

“Tuan tanah kalah dalam pemilihan kepala desa. Karena itu, saya bersama 39 Kk lainnya yang tidak mendukung tuan tanah waktu pilkades 09 Desember 2022 itu di keluarkan dari lokasi labarai maubisi,” demikian keterangan singkat  Julio C. Baros dan Viktor C. Lopes.

Dengan demikian, Julio C. Baros meminta kepada pemda malaka dan kepala desa kamanasa untuk memperhatikan mereka, karena mereka adalah korban politik sehingga mereka diusir dari lokasi labarai.

Terpisah, kepala desa kamanasa, Agustinus Bere Nahak ketika dikonfirmasi media ini melalui telepon selularnya mengatakan, kapolsek malaka tengah dan Banbinsa sudah mediasi dan buat perjanjian  kedua belah pihak yang bertikai karena beda politik.

“Jika diulangi lagi, maka tokoh Adat Romaldo C. Lopes akan ditahan oleh polisi. Apa bila pak Romaldo dan lainnya masih mencoba untuk intimidasi julio dan teman-temannya di labarai maubesi,” Tegas kades  agus pada senin 12 Desember malam sekitar pukul 20:00 WITA.

Baca Juga :  Ini Visi dan Misi Cakades Kereana, Frederikus Seran Bria, Jangan Lupa Coblos Nomor urut 2!

Terlepas dari itu, Julio kembali mengungkapkan, walaupun sudah ditegaskan dan dimediasi oleh Anggota Kapolsek Malaka Tengah dan Babinsa, namun tuan tanah dan Romaldo beserta tokoh adat lainnya tetap mendatangi Julio C. Baros bersama ratusan lebih warga tersebut untuk membongkar rumah mereka.

“Mereka tetap kembali dan minta, jika rumah kami tidak dibongkar, maka akan ada masalah besar,” Ungkap Julio meniru kembali tekanan memiliki tanah.

Hal seperti ini kata julio, bahwa mereka ini korban politik, namun para pimpinan wilayah tidak perhatikan ia bersama warga lainnya.

“Sebagai Rakyat miskin terasa hati ini sangat sakit. Padahal kami ini korban politik, mengapa SNKT dan kades Agus tutup mata untuk kami? Apa kami tunggu di bunuh dulu baru mereka bisa datang untuk melihat kami, SNKT dan kades kamanasa harus perhatikan Nasib kami,” Tanya julio kembali meneteskan air mata sembari meminta perhatian Bupati dan Wakil Bupati Malaka dan juga Desa pemanasan terpilih.

Dikatakanya, selama ini mereka di Intimidasi dan teror terus menerus, mereka sekeluarga bertikai karena politik, sedangkan mereka semua masih keluarga kandung. Namun karena beda politik mereka harus menanggung beban seperti ini.

Foto://Andry// Rumah Warga yang di Bongkar akibat Beda Politik di Malaka.

“Kami butuh perhatian yang serius dari SNKT dan desa kamanasa. Dimana hati nurani SNKT dan kades kamanasa? Demi kalian kami jadi korban dan harus menanggung beban seperti ini,” Pintahnya berlinang air mata.

Reporter : Andry
Redaksi  : Arro