Daerah  

Dipindahkan Tanpa Dasar Yang Jelas Membuat Anak-Anaknya Hampir Putus Sekolah, Istri Kapten Irwan Minta Penjelasan Dari Pimpinan 743

Kabar-Malaka.com – Kapten Irwan seorang TNI di pindahkan tiga kali dalam tujuh belas bulan tanpa dasar yang jelas mebuat anak-anaknya Hampir Putus Sekolah, seorang Istri Kapten menuntut keadilan kepada pimpinan satuan awal 743 untuk menjelaskan apa penyebabnya.

Kendati demikian disampaikan Siti Nur Aini sang istri dari Kapten Irwan seorang Kapten kepada Media ini kamis, 06 oktiber 2022.

Dikatakan istri sang Kapten, bahwa di tahu kemarin suaminya dipindahkan di bulan tujuh (juli), tidak lama kemudian Suaminya dipindahkan lagi dan terus menerus dipindahkan selama tiga kali.

“Selama kami enam tahun disana, kami tidak diberi rumah dinas oleh Satuan Awal 743, dan Kami dipindahkan dari satuan awal 743 ke Rote Ndao, dalam waktu dua bulan dikembalikan ke 743 Kupang, kemudian dari 743 pindahkan lagi ke Korem, setelah itu dari Pabintal Yonif 743/PSY Brigif 21/komodo di pindahkan lagi ke Kodim Belu, lalu di pindahkan lagi ke Koromil Biudukfoho. karena serahterima di hari senin. namun sebelum serahterima, hari minggu dikeluarkan lagi surat pindah suami saya ke manggarai, padahal hari seninnya kapten Irwan akan segera dilantik,” Kata Istri Kapten Irwan.

Hal tersebut membuat Siti Nur Aini, istri sang kapten Irwan merasa bahwa mereka sedang di diskriminasi sepihak oleh satuan awal Pimpinan Batalion Infantri 743.

karena terus dipindahkan tidak sesuai prosedur dan dasar yang jelas membuat kedua anak dari Kapten Irwan sama Ibu Siti Nur Aini terancam putus sekolah.

Baca Juga :  Isu Pilkada Kabupaten Malaka 2024, Kandidat Calon Bupati Mulai Bermunculan

“Seolah kami di diskriminasi dan dipermainkan oleh satuan awal pimpinan Batalion Infantri 743. Kami dipindahkan terus menerus tanpa dasar yang jelas. Karena itu kedua anak kami hampir putus sekolah,” Ungkap Istri Sang Kapten.

Siti menjelaskan, bahwa ia bersama suaminya mempunya enam buah hati, saat ini ada dua anak mereka yang sedang menjalankan pendidikan Sekolah Dasar (SD) tapi karena orang tuanya di sprint terus hingga berefek pada kedua anaknya hampir putus sekolah.

“Kami punya enam anak. Anak kami masih kecil-kecil dan duanya sedang menjalankan pendidikan Sekolah Dasar, tapi karena kami dipindahkan terus menerus membuat kedua anak kami hampir putus sekolah,” Katanya

Menurunya, dalam 17 bulan di pindahkan selama tiga kali itu tidak adil dan tidak sesuai prosedurnya. Bahwasannya kapten Irwan di pindahkan kecuali sudah bertugas selama enam bulan sampai satu tahu.

“Enam bulan sampai satu tahun itu pun pindah sekali saja, setelah bertugas selama enam bulan sampai satu tahun lagi baru di pindahkan lagi. Tetapi ini kita terus dipindahkan sebanyak tiga kali dalam tujuh belas bulan. Perpindahan itu yang membuat anak kami hampir putus sekolah,” Tutur Siti Nur Aini, Istri Sang Kapten Irwan.

Dengan demikian, Istri sang Kapten meminta dengan tegas, supaya satuan awal Pimpinan Batalion Infantri 743 menjelaskan Faktor permasalahnya apa sehingga mereka bisa dipindahkan.

Baca Juga :  Penyerahan Cata PK TNI AD ke Sub Panpus disaksika Komandan Kodim Se-NTT

“Jangan sampai dari Satuan Awal Batalion Infantri 743 tidak suka sama kami. Tapi masalah kami apa sehingga bisa terjadi seperti ini?,” Tanya Istri sang Kapten.

Sesuai analisa Siti Nur Aini, bahwa ini pasti ada unsur ketidak sukaan terhadap kehadiran suaminya. sehingga Satuan Awal Batalion Infantri 743 yang semenah-menah melakukan sprint kepada suaminya.

“Ada apa? Kenapa kami di sprint terus tanpa dasar yang jelas, harap Satuan Awal Pimpinan Batalion Infantri 743 menjelaskan permasalahnnya apa? Sehingga kami sekeluarga bisa tahu apa penyepabnya,”! Pinta Istri Kapten Irwan.

Menurut istri kapten Irwan, bahwa sikap diakriminasi sepihak dari satuan awal Pimpinan Batalion Infantri 743 mebuatnya merasa dirugikan, sehingga dirinya meminta supaya bisa dijelaskan faktor permasalah dari perpindahan suaminya yang selama 17 bulan dipindahkan tiga kali ini.

“Saya merasa, kami didiskriminasi oleh Satuan Awal pimpinan Batalion Infantri 743. bahwasannya, selama enam tahun tidak diberikan rumah dinas, dan suami saya tidak pernah salah apa-apa, kow tiba-tiba saja dipindahkan bolak balik kesana kemari,” Tegas Siti Nur Aini.

Siti Nur Aini juga mengatakan, bahwa waktu seroja rumah mereka sedang ambruk, sehingga Kapten Irwan bersama istri dan anaknya meminta bantuan kepada Satuan Awal untuk memberikan kami tempat dinas untuk nginap sementara.

Baca Juga :  Masyarakat Desa Oan Mane Terima Bantuan Sembako dari Pemkab Malaka, Pemerintah Desa Ucapkan Terimakasih!

“Kami saat seroja itu rumah kami ambruk diterpa badai, sehingga kami pergi minta untuk Satuan Awal 743 berikan kami rumah dinas sebagai tempat penginapan dan suami saya sudah tanda tangan, tapi kami tidak diizinkan untuk menginap di Rumah Dinas,” katanya.

Sementara itu, Satuan Awal 743 Meminta untuk kami nginap dengan catatan Siti istri sang kapten harus mengikuti kegiatan.

Setelah sipindahakan kesana kemari sampai di Dandim Rite Ndao, waktu itu suami Siti sakit berat dan anaknya juga sakit, sedangkan ibu kandung mertua sang kapten juga sedang terbaring di tempat tidur alias meninggal dunia.

“Waktu mama saya meninggal, saya minta izin di Satuan Awal Pimpinan Dandim Rote Ndao untuk izinkan suami saya menemani saya bersama anak-anak pulang melihat ibu di kampung karena sedang sakit. Akan tetapi pimpinan tidak berikan izin, akhirnya kami tidak pergi hingga sampai ibu saya meninggl dan dimakamkan. Hal itu membuat saya sangat sakit hati,” Ungkap Istri Kapten Irwan berlinang air mata.

Kemudian perpindahan terus terjadi hingga sampai di Koromil Biudukfoho. Stelah semua itu belum serah terima, Kapten Irwan dipindahkan lagi ke Manggarai.

Oleh karena itu, Istri Kapten Irwan bergegas menuju ke kediaman Danrem Wira Sakti Kupang dan tidur di Depan pintu bersama anak-anaknya untuk memohon keadilan. (***)

Redaksi : Arro