Perempuan di Titik Nol; Pelacur Sukses Lebih Baik Dari Seorang Suci Yang Sesat

Perempuan di Titik Nol (Women at Point Zero)
Penulis : Dr. Nawal el-Saadawi (Penulis Berkebangsaan Mesir).

Kabar-malaka.com – Novel ini merupakan sebuah karya dari Nawal el-Sadaawi, seorang dokter sekaligus penulis berkebangsaan Mesir. Telah banyak karya yang ia hasilkan, namun novel Perempuan di Titik Nol-lah yang memiliki kesan yang sangat mendalam.

Novel ini menceritakan tentang seorang tahanan wanita di penjara Qanatir, Mesir yang tengah menunggu hukuman matinya tiba.

Ia dipenjara karena telah membunuh seorang germo. Yang menarik adalah bahwa ia tidak memiliki rasa gentar sedikitpun dalam penantian itu.

Ia juga menolak menulis surat untuk meminta keringanan atas hukuman yang dijatuhkam padanya.

Seakan-akan ia telah siap menyongsong kematian. Hal inilah yang membuat penulis Nawal el-Sadawi tertarik untuk mengorek kisah hidup wanita ini.

Firdaus, tokoh sentral dalam novel ini adalah sesosok wanita yang memiliki karakter yang unik. Ia memiliki pandangan bahwa pelacur sukses lebih baik daripada seorang suci yang sesat. Pandangan ini tentu tidak terlepas dari sejarah hidupnya yang terbilang menyedihkan.

Sejak kecil ia telah diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi oleh ayahnya sendiri. Ayahnya hanya memikirkan tentang hidupnya sendiri dan mengabaikan Firdaus dan istrinya. Bahkan untuk mencari makan pun, ibu Firdauslah yang harus turun tangan.

Firdaus juga kerap mendapatkan pelecehan seksual. Orang pertama yang melecehkannya ialah Muhammadain, teman sepermainannya sendiri.

Namun pada saat itu Firdaus masihlah muda sehingga ia tidak tahu bahwa ia dilecehkan.
Selanjutnya ialah pamannya sendiri, yang bersekolah di Kairo.

Baca Juga :  2 dari 20 Partai Gagal di Verifikasi Administrasi

Pamannya kerap datang berkunjung ke rumah Firdaus dan menggerayangi tubuhnya. Saat kedua orang tua Firdaus meninggal, pamannya membawa ia ikut serta ke Kairo dan menyekolahkannya disana.

Di sekolah, Firdaus dalah gadis yang cerdas. Ia rajin membaca.Ia pun lulus dan mendapatkan ijazah sekolah menengah. Namun ijazah selolah menengah tidaklah cukup untuk mencari pekerjaan. Ditambah lagi saat itu paman Firdaus telah menikah dan istri pamannya merasa keberatan menampung Firdaus yang pengangguran.

Paman dan bibinya pun menikahkan Firdaus dengan seorang lelaki tua kaya bernama Syeikh Yusuf yang memiliki bisul di dagunya. Kerap kali bisul itu menguarkan bau busuk. Meskipun kaya, Syeikh Yusuf ternyata sangat perhitungan terhadap hartanya.

Merasa tidak tahan, Firdaus kemudian kabur. Ia lalu bertemu dengan Bayoumi. Mereka berdua pun tinggal berdua dan bahkan ‘berbagi tempat tidur’.

Awalnya Firdaus merasa aman bersamanya, namun suatu ketika mereka bertengkar dan Bayoumi menyakiti Firdaus. Ia juga mengurung Firdaus dan tiap malam bukan hanya Bayoumi saja yang memperkosanya tetapi juga teman Bayoumi yang lain.

Terlepas dari Bayoumi ia dipertemukan dengan seorang wanita bernama Sharifa. Firdaus kemudian diperlakukan dengan sangat baik.

Ia diberi tempat tinggal, mendapatkan perawatan tubuh untuk mempercantik diri dan berbagai kenikmatan lainnya.

Baca Juga :  Conterius Seran Menilai, Keterangan Saksi Korban WBN Tidak Memiliki Nilai Pembuktian Dalam Sidang Lanjutan Perkara FR

Namun ternyata semua kebaikan itu hanyalah tipu muslihat untuk memperbudak Firdaus sebagai pelacur.

Firadaus akhirnya hidup menggelandang. Kehidupan memaksanya untuk menjual tubuhnya sendiri demi mendapatkan uang. Sampai suatu ketika ia mendapatkanuang 10 poud dari seorang pria yang telah menidurinya.

Firdaus mulai sadar akan kemampuan dirinya dan memasang harga tinggi atas tubuhnya.
Berkat kerja kerasnya pula ia mendapatkan pekerjaan dan bertemu dengan seorang pria revolusioner yang berniat membela hak-hak kaum bawah bernama Ibrahim.

Mereka saling jatuh cinta. Namun betapa sakit hatinya Firdaus ketika mendapati Ibrahim mengkhianatinya dengan menikahi putri direktur perusahaan tempat mereka bekerja.

Firdaus merasa sedih karena baru kali ini ia merelakan perasaannya terlibat dengan seseorang.
Masalah lainnya muncul lagi saat ia bertemu dengan seorang germo bernama Marzouk yang memaksanya untuk bekerja untuknya.

Karena Firdaus menolak, sang germo dan Firdaus adu fisik. Firdaus melapor ke polisi atas kejadian itu namun polisi tidak menggubrisnya karena ternyata sang germo memiliki hubungan dekat dengan polisi.

Ketegangan terus berlanjut hingga Firdaus kemudian membunuh germo itu.Di akhir cerita, Firdaus ditangkap oleh polisi dan dipenjara dengan hukuman mati atas kesalahannya.

Namun bagi Firdaus itu tidak masalah. Ia menolak menulis surat untuk keringanan hukuman karena baginya bukan dia penjahatnya, melainkan para lelaki.

Novel ini seakan memberikan gambaran kepada kita tentang betapa wanita amat sangat rendah di mata para lelaki. Para wanita hanya menjadi objek pemuas kebutuhan nafsu mereka.

Baca Juga :  Membangun Indonesia dan Daerah dari Aspek Kebudayaan

Firdaus adalah salah satu korban dari kejahatan itu. Dalam novel ini Firdaus juga mengajarkan kepada wanita bahwa mereka seharusnya melawan segala penindasan yang dialamatkan kepada mereka, bukan dengan jalan diam dan tetap berusaha mencari zona aman dengan cara patuh dan menerima segalanya dengan mudah lantaran takut.

Novel ini memiliki cerita yang sangat menarik dengan karakter tokoh utamanya yang memukau. Firdaus adalah salah satu gadis pemberani yang tidak takut untuk melawan ketertindasan yang ia dapatkan.

Novel ini juga menggambarkan tentang kebejatan yang dimiliki oleh para pria. Bahkan hampir semua pria yang ada dalam novel ini tak satu pun yang berjiwa baik. Nawal el-Sadaawi dengan berani memperlihatkan semua kebobrokan yang ada di diri para lelaki, yaitu nafsu.Terlepas dari semua itu, novel ini adalah bacaan wajib bagi siapa pun.

“Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat. Semua perempuan adalah korban penipuan. Lelaki memaksakan penipuan pada perempuan, dan kemudian menghukum mereka karena telah tertipu, menindas mereka ke tingkat terbawah, dan menghukum mereka karena telah jatuh terlalu rendah, mengikat mereka dalam perkawinan, dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka, atau menghantam mereka dengan penghinaan, atau dengan pukulan”. (Ita)

Sumber : Catatan Kaki Tangan Demokrasi dan Keadilan.