Opini  

Guru Harus Jadi teladan dalam kata dan perbuatan serta memiliki Nilai spiritual

Oleh: Paulus Geradus Hurint, S.T.,Gr

Lembata,kabar-malaka.com-seluruh umat Katolik di dunia merayakan Kamis Putih (Maundy Thursday) untuk memperingati Perjamuan Malam Terakhir Yesus dengan kedua belas murid-Nya pada malam sebelum kematian-Nya. Ada dua peristiwa penting yang diperingati dalam liturgi Kamis Putih (Maundy Thursday) ini, yaitu peristiwa perjamuan malam terakhir sebagai simbol perintah untuk mengadakan perjamuan kudus dan peristiwa pembasuhan kaki para murid sebagai simbol seorang hamba yang melayani.

Pada peristiwa Kamis Putih (Maundy Thursday) ini, Yesus sebagai Guru dan Pemimpin tampil sebagai seorang hamba yang dengan setia melayani dengan membasuh kaki para murid-Nya. Pembasuhan kaki yang dilakukan oleh Yesus ini, telah menunjukkan kepada kita, bahwa Yesus mampu melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak layak untuk dilakukan.

Contoh keteladanan yang ingin ditunjukkan oleh Yesus dengan merendahkan diri serta melayani para murid-Nya, karena Yesus menginginkan agar para murid-Nya juga harus merendahkan diri dan mau melayani sesamanya.

Baca Juga :  Kuliah Daring Ternyata Berdampak Stres Bagi Mahasiswa

Dalam sebuah lembaga pendidikan, contoh keteladanan Yesus ini harus dilakukan oleh seorang Guru kepada peserta didiknya, Guru dengan sesama Guru dan peserta didik dengan sesamanya. Bentuk ekspresi dan keterberian diri dari seorang Guru kepada peserta didiknya dalam nuansa pelayanan, maka peserta didik akan berani untuk tampil dalam mengexpresikan dirinya secara maksimal dalam seluruh proses pembelajaran untuk menemukan kesejatian dirinya.

Kesejatian diri yang otentik inilah yang memungkinkan peserta didik untuk saling memberi dan berbagi, baik pada tataran aspek Kognitif maupun pada aspek Psikomotorik dan Afektif.

Sebagai pemimpin bagi peserta didik di sebuah lembaga pendidikan, maka seorang Guru diharapkan untuk tidak mengintervensi dan menjejali begitu banyak pengajaran “Otodoksis” yang bermuatan seribu satu macam doktrin, melainkan lebih pada kemerdekaan belajar bagi peserta didiknya.

Oleh karena itu seorang Guru harus memiliki insting yang tajam dalam menguasai lingkungan sekolahnya, memiliki intelektual yang cemerlang dalam mensinkronkan materi pembelajaran demi menjawabi kebutuhan dan pelayanan kepada peserta didiknya.

Baca Juga :  Perempuan di Titik Nol; Pelacur Sukses Lebih Baik Dari Seorang Suci Yang Sesat

Perjamuan terakhir Yesus dengan para murid-Nya, yang dirayakan oleh umat Katolik pada Kamis Putih ini, bukanlah sebuah perjamuan keputusasaan dan kesedihan, melainkan sebuah perjamuan yang penuh keakraban dan persaudaraan yang penuh makna.

Yesus melakukan pembasuhan kaki bagi para murid-Nya, sebagai suatu tindakan rendah dan hina yang biasa hanya dilakukan oleh seorang hamba. Akan tetapi dalam peristiwa ini, Yesus menanggalkan segala kemuliaan dan kehormatan-Nya sebagai Tuhan, menanggalkan kuasa dan melupakan segala macam nama dan gelar yang melekat pada diri-Nya. Yesus dengan rela dan berani serta penuh kerendahan hati yang tulus dan ikhlas, untuk turun membasuh kaki para murid-Nya.

Yesus rela menjadi hamba yang rendah untuk melayani – tapi bukan untuk mencari nama dan sensasi atau supaya dikagumi, atau mau pamer dan berlaku sandiwara.

Baca Juga :  EDUKASI ANTIKORUPSI KEPADA ANAK SEJAK USIA DINI SEBAGAI GENERASI PENERUS BANGSA MELALUI PERAN KELUARGA

Bentuk pelayanan Yesus ini harus menjadi motivasi dan refleksi pedagogik bagi para Guru zaman ini, dalam bingkai tugas dan pengabdiannya. Yesus telah mewujudkan komitmen hidup-Nya sebagai obor dan penyebar nilai kebaikan bagi para murid-Nya.

Lantas, bagaimanakah dengan para guru zaman sekarang, yang menyandang predikat sebagai guru profesional, sambil disertai dengan begitu banyak jabatan, profesi dan gelarnya? Panggilan menjadi seorang Guru bukanlah sekedar pada jabatan atau profesi yang diemban, melainkan lebih pada sebuah panggilan yang “Terberi” dan bukannya “Diberi”. Itulah sebabnya panggilan menjadi seorang Guru selalu menuntut adanya pengorbanan dan tanggung jawab yang bermuatkan komitmen pelayanan akan tugas dan pengabdian. Guru harus menjadi teladan dalam kata dan perbuatan serta memiliki nilai spritual atau rohani.